hidup sehat

Hidup Sehat versus Hidup Sehat Penuh Kesadaran

Karena mengikuti jadwal suami, saya membagi waktu saya di dua tempat. Enam bulan di Jakarta dan enam bulan di kota kecil di Upstate New York. Susah bagi saya untuk menceritakan kehidupan saya ke teman-teman di masing-masing tempat. Bagaimana tidak, kedua kota itu benar-benar sangat berbeda. Jakarta, yang terpolusi tinggi, dengan jumlah penduduk dan kemacetannya, ditambah dengan ketimpangan ekonomi penduduknya, untuk dibandingkan dengan Ithaca, yang berpenduduk 30 ribu orang dengan alam begitu terbuka dan bersih, dan tidak ada kemacetan sama sekali. Teman di Ithaca pasti akan tercengang kalau saya ceritakan bahwa hampir semua teman di Jakarta memiliki asisten rumah, baby sitter, supir pribadi, dan beberapa mobil (really, is everyone so rich there?). Teman di Jakarta pasti tercengang kalau saya beritahu bahwa kami memotong rumput sendiri, bercocok tanam di kebun, membersihkan salju sendiri dengan sekop dan pacul setiap musim dingin (mosok iya bu, emangnya nggak ada yang bantu?).   

Saya merasa mendapat berkah karena saya bisa bolak balik ke dua tempat ini. Saya merasa selalu punya dua perspektif. Di Jakarta, saya selalu punya acuan lain, dan juga sebaliknya. Saya merasa sebagai duta besar dua kultur. Betapa beruntungnya.

Tahun ini, bisnis kecil-kecilan kami Heal! mendapat kesempatan untuk menjual produk kami di beberapa toko sehat dan toko organik di Jakarta. Artinya, kami bisa berkenalan dengan pemilik dan manajer toko sehat, juga makin memahami bahwa di Jakarta banyak orang yang teraspirasi untuk hidup sehat. Kelihatannya, uang bukan masalah bagi para pelanggan. Banyak beredar barang dan makanan sehat impor di Jakarta. Jumlah toko sehat pun cukup banyak dan tersebar.

Dari pengamatan saya, banyak yang ingin sehat dengan mengkonsumsi biji chia, almonds, walnuts, acai, goji berries, moringa, coconut oil, dan coconut sugar. Harganya tinggi-tinggi, maklum impor. Tetapi yang membuat saya heran mengapa untuk moringa, coconut oil dan coconut sugar harga juga mahal sekali? Indonesia kan negara kepulauan, pantai kita dipenuhi oleh pohon kelapa, dan pohon moringa ada di mana-mana juga. Kenapa masih mau beli juga sih kalau harganya berlipat ganda begitu?

Nah di sinilah akhirnya gelar ekonomi saya membantu menjelaskan. Jawabannya ada dua: internet dan asymmetric information (ketidak seimbangan informasi).

Saya coba google 'healthy eating,' dan dalam bilangan seperdetik keluar 669 juta hasil. Kalau saya google 'healthy lifestyle,' keluar 710 juta. Dan kalau dilihat dengan lebih seksama, banyak sub-set di mana opini bertentangan untuk hal-hal yang sama. Kita betul-betul harus tahu cara menyaring informasi, dengan taktik jitu dan keywords tertentu untuk mempertajam informasi dari internet yang kebanyakan juga bersumber dari negara maju atau barat. Sayangnya, kita kadang terlalu sibuk, tidak punya waktu, malas mencari tahu arti bahasa Inggrisnya, dan terlalu cepat percaya kepada judul berita, video iklan, memes, endorsement dari blogger asing dan orang ternama dan selebriti barat.  Chia? Oat? Oke. Coconut oil? Coconut sugar? Oke. Padahal baru beberapa tahun yang lalu ada himbauan untuk tidak mengkonsumsi coconut oil karena takut kolesterol. Agave? Sip.

Nah, menurut teori ekonomi kasus asymmetric information terjadi ketika pihak pertama dalam bertransaksi tidak memiliki informasi penuh seperti halnya pihak kedua. Menurut teori, ketika terjadi asymmetric information, maka pihak pertama akan melakukan tindakan yang merugikan dirinya sendiri.

Dalam kasus kita di Jakarta, pedagang akan mendeteksi adanya permintaan barang sehat, dan cepat bertindak, dalam hal ini banyak mengimpor, dengan harapan keuntungan yang akan didapat. Konsumen, di lain pihak, biasanya tidak memiliki informasi sempurna dan tidak lagi mencari informasi lebih dalam mengenai mengapa satu makanan dianggap sehat.

Ada teman saya yang membeli moringa powder di satu toko sehat seharga 150 ribu rupiah untuk 100 gram bubuk. Memang merek Amerika. Tapi sewaktu saya terangkan bahwa moringa itu tidak lain hanya daun kelor dan Amerika tidak memiliki pohon tersebut, kemungkinan mengimpor daun kelor dari Indonesia, Sri Lanka, atau India, dia menjerit. Dengan 90 ribu kita bisa beli 1 kilo moringa organik dalam negeri. Coconut sugar yang begitu mahalnya di dalam kemasan cantik itu, mungkin hanya serutan gula jawa atau gula aren kita. Coconut oil itu sepertinya minyak kelapa yang biasa dibuat oleh mbak-mbak asisten ibu saya dari parutan kelapa. Turmeric capsules dari Amerika itu tidak akan bisa melawan kunyit segar dari pasar, yang kita bisa olah sendiri untuk jamu atau turmeric latte kalau mau kekinian.

Saya kira di sini ada kesempatan untuk supaya lebih baik lagi. Hidup dan makan sehat itu penting sekali, tetapi bayangkan kalau kita rubah haluan. Semisal kita mencari alternatif makanan sehat produksi lokal (selasih versus chia, kacang mete versus almonds atau walnuts, jamblang versus acai, rosela versus goji), menyuarakan permintaan hasil pertanian lokal yang organik, kita membantu meringankan beban neraca pembayaran negara, membantu  mensejahterakan petani indonesia, mendorong praktek pertanian organik, dan dengan demikian melipat gandakan efek kesejahteraan masyarakat desa dan luar Jawa dengan multiplier effect dalam ekonomi. Semisal kita kembali ke tradisi eyang/nenek kita, yang biasa makan macro food (pangan lokal, kebanyakan pangan dari tumbuhan, jarang daging, banyak makanan fermentasi seperti oncom, tempe, tauco, menggunakan akar-akar dan tumbuhan untuk obat), kemungkinan besar kesehatan kita akan membaik. Memang benar kita harus terus mencari tahu kebiasaan dan resep leluhur kita. Informasi internet banyak didominasi informasi dari barat yang belum tentu menguntungkan kita.

Hidup sehat secara mindful dengan penuh kesadaran bukan berarti kita harus meditasi atau yoga. Bukan cuma itu. Hidup sehat dengan kesadaran berarti kita menyadari kemampuan kita dalam mencapai tujuan hidup sehat kita dengan kesadaran memilih supaya kita memberi dampak positif ke sekitar kita. 

Ya, tentu kita memang memiliki kemampuan itu. Yuk, mulai memilih dengan penuh kesadaran kepada sekitar. Mudah-mudahan berkah untuk kita semua.

 

PA211240.JPG